Jika anda berfikir hal ini aneh, faktanya memang sudah lama ada. Menambang bitcoin di dalam kontainer ini dilakukan oleh Layer1 Technology. Sebuah startup pertambangan bitcoin yang beroperasi di Texas Barat. Proses pertambangan yang dilakukan memang di dalam beberapa kontainer besar.

Menambang bitcoin dalam kontainer pada dasarnya sudah bukan hal yang baru. Sudah bermunculan beberapa startup sebelumnya yang membuat perangkat-perangkat mining di dalam sebuah unit mobil khusus, ataupun kontainer. Termasuk juga dengan Layer1 Technology.

Startup yang didirikan oleh Peter Thiel ini mulai diperkenalkan tahun 2019, berbasis di San Francisco. Awalnya Layer1 Technologi adalah sebuah perusahaan investasi. Lalu berubah 180 derajat menjadi sebuah perusahaan mining bitcoin.

Bukan keputusan mudah untuk mengambil inisiatif menambang bitcoin di Texas. Umumnya, ekosistem pertambangan di China lebih banyak diuntungkan karena tarif listrik yang lebih murah. Selain itu supply energi listrik terbarukan yang melimpah.

Inisiatif itu kemudian coba untuk diterapkan agar bisa memperoleh replika dengan cara yang sama dalam meminimalisir biaya energi listrik. Targetnya, agar bisa dilakukan di Texas. Hal itu didukung dengan kondisi bahwa tarif listrik di Texas ternyata juga cukup kompetitif.  Terlebih wilayah tersebut memiliki pembangkit listrik terbarukan.

Untuk mendukung upaya ini, Layer1 membeli puluhan hektar tanah di Texas. Tujuannya hanya untuk membangun stasiun pembangkit listrik sendiri. Sembari menjalin kemitraan dengan perusahaan semikonduktor Beijing untuk membuat chip ASIC mining sendiri. Tentu akan membutuhkan biaya cukup besar!

Namun, ternyata startup ini mendapat dukungan dari gabungan beberapa perusahaan yang bernama Digital Currency Group (DCG). Di dalam DCG itu terdiri dari Peter Thiel sendiri, Sasha Ventures, dan beberapa investor lainnya. Setidaknya dari DCG itu sudah memiliki dana sebesar USD 50 juta. Dengan valuasi sekitar USD 200 juta, atau sekitar Rp. 2,7 trilyun lebih.

Tantangan lainnya adalah, cuaca di Texas itu panas. Hal ini jelas akan dipandang sebagai lokasi yang tidak ideal. Jika lokasi pertambangan memiliki cuaca yang panas, membutuhkan pembiayaan tambahan berupa mesin-mesin pendingin. Tanpa ini, perangkat ASIC mining mudah rusak.

Peter Thiel, memutar otaknya kembali. Hingga akhirnya perusahaan ini mengembangkan sendiri teknologi pendingin khusus untuk pertambangan bitcoin. Kisarannya, dari mesin pendingin itu hanya membutuhkan energi listrik tambahan sebesar 3% saja, dari daya konsumsi perangkat pertambangannya.

Setelah itu, Layer1 lantas membeli beberapa kontainer khusus untuk pertambangan bitcoin. Masing-masing kontainer ini dilengkapi dengan kapasitas listrik sebesar 2,5 megawatt. Lengkap juga dengan teknologi sistem pendingin.

Ambisi yang ingin di capai adalah untuk memperbesar distribusi hashrate sebesar 30% di akhir tahun 2021. Ambisi ini tentu saja terkesan terlalu berat. Namun bukan tidak mungkin untuk dicapai. Langkah ini lantas didukung dengan target jangka pendek. Dalam beberapa bulan diupayakan untuk bisa menambah kapasitas sekitar 100 megawatt. Sementara di lokasi yang sama, Texas, Bitmain sudah memiliki kapasitas sebesar 50 megawatt.

Jika di kalkulasikan, untuk mencapai daya komputasi sebesar 30% distribusi hashrate bitcoin, artinya perusahaan ini membutuhkan sekitar 500.000 perangkat Antminer S17+. Tentu saja, angka ini jelas akan berubah seiring waktu berjalan. Pasalnya, distribusi hashrate jaringan bitcoin juga akan terus berubah dari waktu ke waktu. Total daya komputasi jaringan bitcoin, relatif akan terus naik. Bertumbuh lebih tinggi. Sehingga kesempatan untuk mampu menyerang jaringan Bitcoin makin sulit. Hampir mustahil bisa dilakukan.