Hassan Rouhani, Mata Uang Kripto Negara Muslim

Hassan Rouhani mengusulkan agar negara-negara Muslim membuat mata uang kripto sebagai alternatif terhadap dolar AS.

0
66
Uang Kripto Negara Muslim

BitcoinMedia. Presiden Iran Hassan Rouhani mengusulkan ada mata uang kripto negara Muslim. Melalui mata uang kripto khusus itu, sebagai alternatif terhadap mata uang dolar AS. Mata uang alternatif dapat digunakan untuk mematahkan hegemoni dan intimidasi dolar AS melalui sangsi ekonomi yang kerap dilakukan.

Pernyataan Presiden Iran itu disampaikan dalam kesempatan sebuah event konferensi yang digelar di Kuala Lumpur Malaysia hari Kamis kemarin (19/12/19). Rouhani mengusulkan agar pada kesempatan di konferensi tersebut untuk menggalang pendanaan bersama dalam membangun kerjasama untuk teknologi di negara-negara Muslim. Mendirikan pusat penelitian dalam hal kecerdasan buatan dan teknologi lainnya.

Rouhani mengatakan, “ Dunia muslim harus merancang langkah untuk menyelamatkan diri dari dominasi dolar AS dan rezim keuangan Amerika,” terangnya, dikutip dari usnews.com (20/12/19). Iran sejauh ini memang telah terkena sangsi ekonomi dari AS merujuk pada penarikan AS di perjanjian nuklir.

Menurut Rouhani, negara-negara Islam perlu untuk memperdalam kerja sama keuangan dan perdagangan. Upaya ini dianggap perlu untuk melawan hegemoni ekonomi AS. Oleh sebab itu, Rouhani mengusulkan adanya alat pembayaran keuangan Islam antar negara-negara Muslim untuk perdagangan dengan membuat mata uang kripto.

Penggunaan mata uang kripto negara Muslim disebutnya bisa mengurangi ketergantungan pada dolar AS, serta mengatasi dampak fluktuasi pasar. Dengan menciptakan sistem perbankan dan keuangan khusus antar negara-negara Muslim, akan memperdalam hubungan satu sama lain.

Agenda konferensi yang dibuka pertama hari Kamis kemarin itu berlangsung selama tiga hari. Beberapa pemimpin yang hadir pada acara itu adalah dari Turki, Qatar, dan juga Malaysia. Sementara Arab Saudi memutuskan untuk menolak hadir pada acara tersebut. Indonesia dan Pakistan juga absen dalam acara itu. Alasannya karena pertemuan tersebut tidak diadakan di bawah Organisasi Kerjasama Islam (OKI) yang bermarkas di Arab Saudi. Dalam hal lain, relasi antara Iran dan Arab Saudi memang sudah lama sebagai musuh bebuyutan.