ddkoin
ddkoin
ddkoin

Melalui ciutan di akun Twitter, salah seorang analis kripto menyebutkan bahwa Ethereum (ETH) berpotensi crash. Jika dibandingkan dengan banyak analis kripto lainnya, prediksi ini tentu akan cukup berbeda. Namun proyeksi yang sudah terjadi pada jatuhnya harga Ripple (XRP) akan bisa dilihat.

Sejauh ini hampir keseluruhan pasar kripto baik terutama untuk varian Altcoin dan Token mencoba untuk memanfaatkan momentum halving bitcoin. Begitupun juga halnya dengan Ethereum (ETH) yang mulai naik lebih tinggi 3,8% menjadi USD 209.

Posisi harga Ethereum itu memang berupaya untuk beranjak naik sejak level terendahnya di bulan Maret lalu. Pergerakan harga itu mungkin akan dipandang sebagai proyeksi harga yang baik oleh orang kebanyakan. Namun bagi analis yang satu ini, justru melihat sesuatu hal lain yang tidak dilihat kebanyakan orang.

Ciutan @il Capo of Crypto justru melihat ethereum berpotensi crash. Akun Capo tersebut kerap dikenal dengan seorang analis trading dengan analisis yang cukup akurat. Di dalam ciutan itu, Capo melihat potensi penurunan ETH hingga di level USD 40-45.

Hal yang sama juga telah dapat dilihat pada Ripple (XRP) yang jatuh hingga 50%. Banyak analis yang memprediksi level nilai terendahnya bisa mencapai USD 0,3 sampai USD 0,15. Untuk saat ini, harga XRP sendiri masih di level USD 0,21. Naik sedikit sekitar 2.77% dalam 24 jam terakhir.

Analisis yang dibuat oleh Capo adalah berdasarkan “Elliot Wave” atau “Gelombang Elliot”. Pada prinsip terkait gelombang Elliot ini adalah bahwa pasar akan berpotensi berperilaku kacau tidak menentu. Namun, pada dasarnya pola tersebut adalah pola yang berulang. Bergerak dalam siklus pasar dan berulang.

Berdasarkan analisis teknikal Elliot Wave itu, Capo melihat target penurunan harga Ethereum hingga 80%. Jauh lebih tinggi ketimbang penurunan XRP yang hanya berkisar 50%. Salah satu hal yang paling mendasari adalah bahwa Ethereum pun banyak bergantung pada momentum halving Bitcoin. Sementara semua pasang mata saat ini lebih terkosentrasi pada Bitcoin.

(gambar: oleh WorldSpectrum via Pixabay)