ddkoin
ddkoin
ddkoin

Digibyte (DGB) sempat dikabarkan cukup rentan menjadi target 51% attack. Dianggap rentan, lantaran Digibyte dinilai menjadi varian Altcoin kedua yang paling rentan 51% attack setelah Bitcoin Gold (BTG). Rumor ini kemudian ditampik oleh CEO Digibyte, Jared Tate.

Bermula dari posting @hanzyfranzy di forum Reddit pada 27 April lalu. Hanzy menyebut bahwa dirinya melihat ada potensi 51% attack yang sedang berlangsung di jaringan Digibyte. Dalam postingnya ia juga melihat ada perbedaan dua kategori hashrate besar di dalam jaringan.

Beberapa media kripto seperti Cryptoslate (27/4/2020) dan yang lain kemudian menuliskan temuan hancy, meski beberapa saat kemudian diralat kembali. Asumsi potensi serangan di jaringan DigiByte ini lebih terkesan clickbait belaka.

Dua distribusi hashrate besar yang ada di jaringan Digibyte ini berasal dari algoritma Skein dan Qubit. Masing-masingnya memiliki kapasitas sekitar 587 Th/s untuk Skein, dan sekitar 391 Th/s untuk Qubit. Jika dihitung total, keseluruhan dari dua kategori besar itu memiliki jumlah sekitar 40% dari total jaringan Digibyte.

Berawal dari hal inilah asumsi bahwa jaringan Digibyte dinilai telah berpotensi cukup rentan menjadi target 51% attack. Pada beberapa cloud mining besar seperti Nicehash, kerap dinilai memiliki daya komputasi besar, dan bisa disewa oleh orang lain.

Terkait dengan daya komputasi untuk Digibyte, pihak Nicehash juga mimiliki sumber daya komputasi yang besar. Jika dihitung total biaya yang dibutuhkan untuk melakukan serangan dalam waktu per jam, adalah sekitar USD 3.000.

Baikal BK-G28
Baikal BK-G28

Menurut Hanzy, Nicehash juga mimiliki resource untuk perangkat Baikal BK-G28. Perangkat ASIC ini mampu beroperasi pula untuk seri algoritma Qubit dan Skein, yang digunakan juga di Digibyte. Singkat kata, asumsi potensi serangan ini memang tampak cukup masuk akal.

Belum lagi, pada sekitar bulan Mei tahun 2018, Charlie Lee pernah menciutkan kritik terkait kerentanan pada Digibyte.

Menurut ciutan Charlie, jaringan DigiByte tidak lebih aman dibandingkan dengan Litecoin. Pada saat itu, temuan Charlie menyatakan bahwa biaya yang dibutuhkan untuk menyerang jaringan per jam berkisar sekitar kurang dari USD 5.000. Charlie juga menilai bahwa hashrate pada masing-masing algoritma mining yang digunakan lebih banyak didominasi oleh DigiByte sendiri.

Multishield Digibyte Memungkinkan Ditembus?

Di platform DigiByte, digembar-gemborkan sejak 2015 memiliki fungsi pelindung jaringan bernama Multishield. Pihak pengembang menyebutkan fitur ini dapat meminimalisir adanya peralihan hashrate yang datang secara tiba-tiba ke dalam jaringan.

DigiByte (DGB) ini memiliki 5 varian algoritma mining yang dipergunakan, yakni Skein, SHA256, Qubit, Scrypt, dan juga Groestl. Penggunaan lima varian algoritma mining itu dinilai Charlie Lee tidak memiliki fungsi perlindungan tambahan. Sehingga memungkinkan untuk mudah menjadi target serangan, termasuk 51% attack.

Namun, bagi pihak DigiByte, fungsi fitur Multishield disebut mampu menjadi sisi pelapis keamanan jaringan mereka. Asumsinya, jika DigiByte juga menggunakan algoritma SHA256 yang sama dipergunakan Bitcoin, maka penambang Bitcoin dengan kapasitas hashrate yang besar juga bisa memiliki kesempatan besar untuk meraup keuntungan lebih mudah di jaringan DigiByte. Asumsi Charlie saat itu, penambang Bitcoin bisa mendapat keuntungan sebesar USD 20.000 per hari.

CEO Digibyte Menyangkal Potensi 51% Attack

Jared Tate, CEO DigiByte menyangkal bahwa platformnya dinilai rentan terjadi 51% attack. Pada ciutan balasan di tanggal yang sama, Jared menyebutkan bahwa multi algoritma yang digunakan DigiByte sudah beroperasi selama 5 tahun.

Mekanisme multi algoritma yang dipergunakan DigiByte disebut akan saling mempengaruhi besaran distribusi hashrate. Asumsinya, jika ada salah satu varian algoritma mengalami lonjakan hashrate, maka akan berpengaruh pada varian algoritma yang lainnya. Jared juga menambahkan bahwa pada potensi yang terjadi di jaringan hanya sebesar 20%. Alasannya, mekanisme penambahan dan pengurangan tingkat kesulitan masing-masing algoritma juga akan bekerja. Menurut Jared, mekanisme ini juga sudah berjalan di pertambangan Bitcoin maupun Litecoin.