Kebijakan repo USD 1 trilyun The Fed sebagai upaya penyelamatan kondisi moneter di tengah wabah virus corona membangkitkan wacana tentang aset safe haven. Harga emas memang sudah tertekan sejak sepekan lalu. Namun, hal ini tidak dapat merubah bahwa emas adalah asset safe haven yang paling ideal.

Di rentang waktu tanggal 16-20 Maret lalu, harga emas memang tertekan hingga turun sampai 1,4%. Penurunan di pecan itu dinilai sebagai penurunan yang terburuk sejak empat dekade terakhir. Penyebabnya jelas, sebagai dampak wabah virus corona – convid 19.

Pasar emas secara global, harganya turun sampai USD 1.400/ Semantara di hari Rabu pecan lalu sempat sedikit menguat menjadi USD 1.486 per troy ons. Kebijakan moneter melalui The Fed juga memberikan tekanan untuk pasar emas. Terlebih dengan kebijakan repo senilai USD 1 trilyun per hari sampai akhir Maret mendatang. Hal ini memicu masyarakat untuk berupaya memburu dollar.

Emas pun menjadi kalah pamor dibandingkan cetakan uang baru berupa dana pinjaman ala The Fed tersebut. Melihat kondisi itu, banyak pihak mulai mempertanyakan pandangan bahwa emas sebagai aset safe haven yang paling ideal. Namun bicara emas, nilai permintaannya tidak akan pernah terpuaskan.

Pertama dengan kondisi penurunan harga emas saat ini, supply emas juga masih tersedia dengan harga lebih rendah. Bisa diperoleh dimana-mana. Dalah sisi lain, penjualan emas untuk dapat ditukar dengan uang tunai juga menunjukkan kapabilitas emas sebagai aset safe haven. Fakta ini tidak dapat terbantahkan.

Belajar dari situasi di awal krisis keuangan tahun 2008, kondisi itu mungkin cukup mirip seperti yang tengah terjadi saat ini. Harga emas kemudian mengalami lonjakan harga yang cukup signifikan dalam sejarahnya.

Harga emas dari tahun 1974-2012 (gambar: Thomson Reuters )

Pada saat krisis di tahun 2008 itu, The Fed juga mengambil kebijakan serupa, menambah jumlah peredaran uang. Dan hal ini juga menentukan terjadinya lonjakan harga emas berikutnya. Dalam hal ini, situasi yang sama seolah terulang di tahun 2020 saat ini.

Di Indonesia sendiri, harga emas dari PT Aneka Tambang Tbk sudah melonjak 1,36% dari Rp. 11.000 menjadi Rp. 821.000 per gram (CNBC Indonesia 23/3/2020). Sementara di hari Jumat lalu menurun menjadi Rp. 810.000 per gram.

Jika dibandingkan dengan harga emas secara global, harga emas Antam di Indonesia justru melesat 6,6%. Sedangkan harga emas global justru menurun 1,4% karena pasar lebih memburu dolar ketimbang emas.

Fakta ini juga membuktikan kondisi bahwa pasar emas di Indonesia melawan tren pasar emas secara global. Hal ini dipandang karena permintaan emas di pasar Indonesia cukup berbeda dibandingkan di pasar global.

Aset Safe Haven Alternatif, Bitcoin Mungkin Lebih Layak Dibandingkan Dolar

Selain emas, pasar juga masih disuguhkan dengan alternative lain yakni Bitcoin. Harga bitcoin sejauh ini memang sama terdampak kondisi wabah virus Corona dan sempat jatuh sejak pekan lalu. Yang cukup menarik dengan bitcoin, bahwa aset alternatif yang satu ini sudah memiliki segmentasi pasarnya sendiri.

Jika dibandingkan antara Bitcoin dengan emas, Bitcoin memang masih dinilai belum mampu membuktikan dirinya sebagai sebuah aset safe haven yang paling ideal seperti emas. Namun ketika ditengah situasi yang pelik, Bitcoin mungkin dapat hadir memberikan alternative yang cukup patut diperhitungkan.

Naeem Aslam, analis pasar dari AvaTrade mengatakan, “Ketika bicara soal Bitcoin, raja kripto ini akan dalam kondisi on fire, dan kita sudah menyaksikan rally itu sebelumnya,” terangnya di  Businessinsider (20/3/2020).

Saat ini, harga bitcoin masih diperdagangkan di poin USD 5.925, melemah 5,64%. Menurut Osho Jha di Coindesk dua hari lalu (21/3/2020), dirinya cukup yakin bahwa analisis pasar akan keliru memandang bitcoin telah gagal sebagai aset safe haven.

Osho cukup yakin bahwa investor akan keliru dan menyadari bahwa sifat aman dari Bitcoin ini akan terus berlanjut.  Salah satu hal yang mendasari ini adalah penurunan harga Bitcoin ini cukup mirip seperti halnya penurunan harga emas yang terjadi. Osho menilai seolah ada krisis likuiditas yang memicu penjualan aset.

(gambar: oleh Steve Bidmead via Pixabay)