Buaian istilah DeFi kini sudah menuai hasilnya. Setelah DeFi bZx tumbang karena berhasil dibobol penyerang, lalu giliran DeFi MakerDAO yang menuai persoalan. Hingga platform DeFi MakerDAO ini harus dimatikan ketika harga ETH terjun bebas sekitar tanggal 11 Maret lalu.

Di sekitar bulan Desember 2017, Preston Byrne dari Bryne & Storm, P.C sudah cukup kritis menilai mekanisme DeFi MakerDAO yang dianggap banyak kelemahan. Namun seperti yang sudah-sudah, kritik tajam yang cukup berharga itu hanya dianggap angin lalu saja. Tak heran, pada akhirnya tidak hanya Preston Byrne saja yang sudah memberikan kritik. Pasca insiden DeFi bZx, Charlie Lee juga menyebut DeFi tidak ubahnya sebagai teatrikal desentralisasi.

Walau bagaimanapun, pemilik proyek jelas akan merugi besar jika platformnya tidak berjalan. Meski faktanya, jumlah kerugian akibat insiden Black Swan pertengahan bulan kemarin justru cukup fatal. Kurang lebih USD 8,3 juta dalam bentuk Ethereum harus dilikuidasi untuk nilai USD 0. Setidaknya vault menderita kerugian sekitar 35.000 Ethereum (ETH).

Insiden itu memang cukup tragis. Ketika DAI harus bisa mempertahankan harga dengan kolateral USD 1, namun akhirnya berantakan ketika harga Ethereum jatuh akibat Black Swan di hari Kamis (12/3/2020). Black Swan adalah peristiwa yang terjadi di luar dugaan. Sehingga menimbulkan kepanikan dan penjualan serentak di pasar finansial.

Dalam hal ini, ketika harga Bitcoin jatuh saat itu, harga Ethereum terjun bebas. Harga ETH jatuh paling rendah hingga mencapai USD 95. Lalu mulai beranjak membaik sehari kemudian menjadi sekitar USD 110-120.

Apa yang terjadi adalah ketika jaminan DAI itu tidak mampu mempertahankan harga, maka nilai jaminan itu juga memicu terjadinya likuidasi secara otomatis. Sementara yang terjadi di jaringan Ethereum sendiri mengalami kemacetan transaksi lantaran nilai gas yang tinggi secara tiba-tiba.

Kritik Tajam DeFi MakerDAO, DAI, dan Stablecoin

Berkaca dari insiden yang terjadi, kritik Preston Byrne tahun lalu sudah cukup jelas menggambarkan kelemahan sistem DeFi MakerDAO. Pada saat itu, Byrne sudah menggaris bawahi kelemahan DeFi MakerDAO dalam 5 hal.

  1. Sistem MakerDAO seolah sengaja dibuat cukup membingungkan
  2. MakerDAO tidak resisten terhadap Black Swan
  3. DAI hanya bisa bekerja jika harga ETH terus meningkat, sedangkan ini mustahil.
  4. DAI tidak efisien sebagai modal
  5. Penjaminan kolateral hanya berdasarkan serangkaian Stablecoin berantai

Pertama, Preston memang cukup jitu melihat mekanisme DeFi Maker DAO seolah sengaja dibuat cukup membingungkan. Padahal konsep MakerDAO tidak lebih hanya bersifat kontrak derivatif dengan kolateral berantai tokenisasi saja.

Konsepnya lantas dibuat cukup berputar-putar, dan membuat pembeli menjadi bingung untuk memahami fakta bahwa kontrak itu hanya terdiri dari kolateral token berantai, Preston Byrne (10/12/17).

Maksud Preston, bahwa kolateral MakerDAO hanya berdasar dari tokenisasi smart kontrak dalam bentuk Stablecoin yang satu, pada Stablecoin yang lainnya lagi. Lihat saja di dalam MakerDAO, terdapat token MKR, DAI,  ada sistem CDPs, Stability Fee, DAI Saving Rate, Oracle dan bejibun lainnya.

Padahal secara sederhana, konsep yang membingungkan ini justru sudah memberikan pemaknaan yang jauh dari efektifitas dunia kripto. Jika dikaitkan dengan dunia finansial, juga tidak matching bagaimana proses stabilisasi harga itu bisa dilakukan melalui ekonomi moneter.

Kedua, faktanya memang DeFi MakerDAO terbukti tidak resisten terhadap Black Swan. Salah satu perhatian Preston Byrne yang menjadi kenyataan adalah bahwa MakerDAO cukup rentan terjadi krisis likuiditas.

Ketiga, dalam kritik Byrne cukup krusial menilai tentang DAI. Menurutnya DAI adalah sebuah konsep yang sudah cacat sejak awal. Pasalnya menurut Byrne DAI hanya akan dapat bekerja ketika harga ETH naik saja. Sebaliknya, ketika harga ETH turun, DAI berantakan.

Hal ini juga sudah terbukti pada insiden yang terjadi pertengahan Maret lalu. Membuat total kerugian sebesar USD 8,3 juta. Byrne bahkan menunjukkan data yang secara factual menunjukkan rasio penjaminan melalui DAI di Maker DAO harus membutuhkan harga ETH naik.

Sedangkan ketika harga turun, utilitasnya kian tergerus. Karena saling terkait, berujung pula pada kritik Byrne di poin ke empat, bahwa DAI jadi lebih tidak efisien sebagai modal penjaminan. Bryne bahkan menyebut konsepnya cukup gila, pasalnya DAI ini mensyaratkan agunan senilai USD 150 untuk mendapat DAI senilai USD 100. Orang jelas akan lebih mudah hanya membeli menjual ETH langsung di bursa kripto ketimbang jalur yang ribet dan berbelit.

Poin kritik terakhirnya adalah serangkaian penjaminan dalam bentuk Stablecoin berantai. Dalam hal ini, Byrne sudah menilai bahwa Stablecoin adalah konsep yang cacat. Konsep Stablecoin membuai banyak orang bahwa harga kripto dapat tidak ditentukan dari aktifitas pasar. Stablecoin berawal dari konsep Bitshares di tahun 2014. Byrne sudah benar sejak saat itu ketika faktanya ini stablecoin BitShares sudah jatuh sejak pertama dirilis.

Ketika insiden yang terjadi di DeFi bZx, sebenarnya MakerDAO juga sudah ikut banyak tersorot dan sekian kritik awal yang ada kembali menguap kembali ke permukaan. Platform DeFi yang menjanjikan angin surga dan buaian kata indah tersebut menjadi pusat kritikan yang kian tajam. Terlebih sudah cukup banyak penilaian yang menyatakan bahwa Desentralized Finance (DeFi) adalah bukanlah terdesentralisasi.

(gambar oleh Holger Detje via Pixabay)