Berlakunya Standarisasi Mining Pool

Mining pool pertama kali muncul pada era pertambangan GPU di tahun 2010. Lalu menjadi cukup populer karena alasan yang jelas. Menurunkan varian para penambang agar bisa berpartisipasi. Namun saat ini telah menjadi cukup canggih. Ada banyak protokol pool mining yang dijalankan. Bahkan menyarankan protokol pool ini bisa di standarkan menjadi bagian dari Bitcoin. Sama halnya dengan protokol Bitcoin untuk menjalankan jaringan peer-to-peer.

Protokol pool mining memberikan API untuk bisa berkomunikasi antara manager pool dengan para peserta. Manager pool bisa mengirim pesan kepada semua peserta terkait rincian blok yang sedang dikerjakan. Lalu para penambang mengirim pesan kembali terkait saham yang ditemukannya.

Getblcoktemplate (GBT) telah secara resmi dibakukan sebagai Proposal Bitcoin Improvement (BIP). Lalu kemudian ada protokol lain yang bersaing, yang disebut dengan Stratum. Protokol ini, kini telah lebih populer dalam pelaksanaannya. Dan telah diusulkan juga dalam BIP, namun berbeda dengan protokol Bitcoin itu sendiri. Terutama terkait dengan sedikit ketidaknyamanan di beberapa pool. Setiap poool mining hanya dapat memilih protokol mana yang mereka sukai, dan pasar sendiri yang meneentukan.

Sedangkan di beberapa hardware pertambangan, bahkan juga telah mendukung protokol ini. Sehingga akan membatasi fleksibilitasnya. Namun dengan hal ini juga akan membuat menjadi lebih sederhana bagi seorang penambang, saat mulai membeli hardware tersebut, dan bisa dengan mudah bergabung di pool mining. Hanya tinggal mengkoneksikan perangkat, mulai untuk mengkoneksikan ke pool dan langsung bisa memulai pertambangan.

Kelebihan dan Kekurangan Mining Pool

Pernah Terjadi Konsentrasi Daya Komputasi Hampir 51%

Di awal tahun 2015 sebagian besar dari semua penambang mulai banyak yang melakukan pertambangan di pool mining. Sehingga para penambang yang melakukan solo mining semakin sedikit. Di bulan Juni 2014, salah satu pool mining besar, Ghash.io, memiliki hampir 50% kapasitas di jaringan Bitcoin. Karena Ghash berusaha memberikan penawaran menggiurkan kepada para penambang yang ingin bergabung di dalamnya,

Hal ini pun lalu menimbulkan ketakutan, karena akan berpotensi penguasaan jaringan, dan mulai timbul adanya reaksi terhadap Ghash. Lalu di bulan Agustus 2014, bursa saham Ghash langsung berhenti menerima peserta baru. Namun tetap, dua pertambangannya menguasai sekitar setengah dari kekuatan di dalam jaringan.

Berlanjut di bulan April 2015, situasi mulai terlihat sedikit berbeda, dan dominasi mulai sedikit pudar. Ketika pool mining bisa mengakuisisi 51 persen di jaringan akan menjadi perhatian khusus. Sementara pubisitas atas masalah Ghash menjadi pool mining berusaha untuk menghindari masalah. Agar tidak ada hal serupa terjadi.

Kini, para penambang dan pool telah berhasil memasuki bursa Bitcoin dan protokol pool juga telah meningkatkan kemudahan peserta untuk lebih mudah beralih antar pool lainnya. Sehingga pool mining telah menjadi dinamis. Namun akan tetap harus mendapat perhatian dalam perkembangan jangka panjangnya.

Keuntungan Dan Kekurangan Mining Pool

Perlu diketahui pool mining mungkin akan bersembunyi atas daya pertambangan yang sesungguhnya mereka miliki. Sejumlah organ pertambangan besar mungkin akan berpartisipasi di beberapa mining pool untuk menyembunyikan ukuran mereka yang sesungguhnya. Dan di dalam Bitcoin hal ini disebut dengan istilah mining laundering hashes (pencucian hash).

Sampai disini, apakah pool mining adalah hal yang bagus? Keuntungan dengan adanya pool mining adalah karena pertambangan akan bisa lebih mudah dijalankan. Termasuk dengan terbukanya kesempatan bagi penambang kecil untuk bisa berpartisipasi dan terlibat dalam pertambangan Bitcoin.

Tanpa adanya pool mining, penambang kecil akan semakin sulit melakukan pertambangan. Keuntungan lainnya dari pool mining adalah karena ada satu pusat manager pool yang berada di jaringan pool. Manager bertugas untuk perakitan blok dan juga memudahkan untuk mengupgrade jaringan mereka. Seperti mengupgrade software pertambangan pool nya. Dengan begitu, semua peserta didalamnya bisa memperbarui perangkat lunak yang digunakan.

Sementara kerugian utama dari adanya pool mining, tentu saja akan bisa berpotensi sebagai bentuk sentralisasi. Dan ini menjadi sebuah pertanyaan besar, terkait dengan seberapa besar daya komputasi yang dimiliki oleh operator pool mining besar tersebut. Seperti yang pernah terjadi di Ghash.io. Meski penambang bisa bebas untuk meninggalkan pool dan beralih ke pool lain, namun masih belum jelas dan bisa dikalkulasikan seberapa sering penambang melakukan itu.

Kelemahan lainnya, dengan adanya pool mining ini, akan menurunkan populasi penambang yang benar-benar menjalankan full node. Karena sebelumnya, semua penambang, baik penambang besar ataupun kecil, mereka menjalankan sendiri simpul node mereka untuk memvalidasi. Dan mereka juga harus menyimpan seluruh rantai blok, dan memvalidasi setiap transaksi.

Sekarang, sebagian penambang telah jarang melakukan hal itu, karena telah mempercayakan tugas itu kepada pool manager. Dan penurunan tingkat penambang yang menjalankan full node, akan berdampak besar bagi sistem Bitcoin. Terlebih, jika sampai ada sentralisasi di dalam jaringan Bitcoin.