Menambang Bitcoin Dalam Skala Besar Dan Profesional

Bisa di katakan, saat ini pertambangan Bitcoin telah pindah dari pertambangan individu menjadi sentral pertambangan besar dan profesional. Perusahaan-perusahaan besar pertambangan Bitcoin ini sebagian besar ini beroperasi tidak secara terbuka, untuk melindungi mereka dan mempertahankannya secara kompetitif.

Ada tiga hal yang menjadi faktor untuk mendirikan sebuah pusat pertambangan Bitcoin. Tiga hal penting tersebut adalah iklim, biaya listrik, dan kecepatan jaringan. Sehingga secara khusus, tentu akan lebih baik jika pertambangan itu dilakukan di iklim yang digin agar bisa menekan biaya konsumsi listrik untuk pendingin.

Masalah sistem pendingin ini tentu menjadi tantangan tersendiri pada pertambangan Bitcoin. Sementara, tentu banyak yang berharap agar biaya listrik yang murah. Dan juga koneksi jaringan yang cepat agar bisa terhubung ke node lain di jaringan Bitcoin lebih cepat pula.

Evolusi Dalam Menambang Bitcoin

Di dalam pertambangan Bitcoin telah terjadi evolusi yang lambat. Mulai dari pertambangan dengan CPU, beralih ke GPU, lalu kepada FPGA, dan sampai sekarang telah didominasi oleh ASIC. Sementara hal ini pun sama terjadi evolusi dalam pertambangan emas.

Di dalam evolusi pertambangan emas, dimulai dengan pertambangan individu-individu yang menggunakan panci untuk mendulang emas. Beralih kemudian menggunakan kotak-kotak yang menggunakan pintu air, dan dilanjutkan dengan menggunakan peledak di lereng-lereng bukit oleh kelompok-kelompok penambang emas. Hingga kemudian mulai terjadi penambangan emas modern yang melakukan penambangan raksasa dan telah membuat lubang besar di muka bumi.

Evolusi Pertambangan Bitcoin Mirip Dengan Evolusi Pertambangan Emas
Evolusi Pertambangan Bitcoin Mirip Evolusi Pertambangan Emas

Berdasarkan dua evolusi pertambangan tersebut, ada penurunan peran secara individu yang sama-sama menurun dari waktu ke waktu. Beralih pada dominasi perusahaan besar untuk mengeruk keuntungan secara lebih besar. Namun, ada pola lain yang menunjukkan sebagian besar keuntungan tersebut didapat dari pihak-pihak penjual peralatan penambangan.

Apa yang akan terjadi pada pertambangan Bitcoin di masa depan? Saat ini pertambangan Asic telah menjadi satu-satunya cara yang realistis untuk bisa melakukan pertambangan dan memperoleh keuntungan. Namun, pertambangan dengan Asic juga telah berlaku tidak ramah, terutama pada para penambang kecil.

Jika ada sebuah pertanyaan yang mempertanyakan, lalu apa gunanya desentralisasi jika pada akhirnya setiap individu pun pada akhirnya tersingkir? Apakah memungkinkan kembali kepada sebuah yang yang memungkinkan menggabungkan keduanya? Apakah benar lahirnya pertambangan Asic dan munculnya pusat-pusat pertambangan besar ini telah melanggar visi asli dari Bitcoin?

Di dalam cryptocurrency, bisa jadi ada sebuah siklus yang mungkin berulang. Dan hal tersebut telah bisa dilihat kecenderungannya dengan kemunculan Altcoin. Dimana sebuah cryptocurrency lain selain Bitcoin muncul dan masih terbebas dari pihak investor besar. Namun tentu saja dengan tingkat permulaan dan harga yang masih jauh relatif lebih kecil dibandingkan dengan Bitcoin saat ini.

Ada sebuah kondisi yang bisa dimanfaatkan ketika Asic masih belum tersedia pada Altcoin baru. Dan pertambangan pun mungkin akan melanjutkan sejarah dari CPU ke GPU, lalu dari GPU ke FPGA, dan berujung kembali kepada pertambangan Asic. Namun hal itu tentu juga akan beresiko, tentang apakah altcoin baru tersebut akan berhasil atau tidak nantinya.

Konsumsi Energi Dan Ekologi Pertambangan Bitcoin

Munculnya pusat pertambangan besar secara profesional membuat dominasi pertambangan Bitcoin. Hal ini seakan sama persis dengan pertambangan emas. Terutama, bagaimana peran perusahaan besar di pertambangan emas yang telah banyak menimbulkan kerusakan lingkungan.

Sementara di Bitcoin, mungkin tidak akan menjadi sebesar itu sebagai dampaknya. Namun, pertambangan Bitcoin juga membutuhkan energi yang besar. Secara tidak langsung, akan juga berdampak bagi mata uang, dan juga lingkungan.

Ada sebuah hukum fisika yang dikenal dengan prinsip Landauer, oleh Ralph Landauer di tahun 1960. Pada hukum fisika itu menyatakan bahwa setiap komputasi non-reversible (searah-tidak dapat dibalik) akan membutuhkan sejumlah minimum energi. Logikanya, setiap komputasi secara irreversible dianggap dapat menghilangnya sebuah informasi. Terutama, di dalam prinsip hukum fisika itu, menyatakan bahwa setiap bit akan mengkonsumsi minimal (kT In 2) joules. Dimana K adalah konstan Boltzmann, atau kurang lebih 1.38×10-23 J/K. Disitu, T adalah temperatur sirkuit dalam ukuran Kelvin, dan In 2 adalah algoritma biasa dari 2, atau kurang lebih bernilai 0.69. Jumlah kecil ini adalah jumlah energi per bit. Dari hukum fisika ini, menjelaskan bahwa sebuah komputasi, akan membutuhkan energi yang bisa dihitung tiap bit.

Sedangkan SHA256, ada yang menganggap bukanlah sebuah komputasi reversible. Dijelaskan dalam hukum fisika diatas, bahwa setiap komputasi yang non-reversible akan membutuhkan energi, dan SHA-256 digunakan sebagai dasar pertambangan Bitcoin. Sehingga artinya, komputasi pertambangan Bitcoin juga membutuhkan energi.

Lalu bagaimana bisa menambang Bitcoin membutuhkan daya energi?

Proses Menambang Bitcoin, tidak bisa memungkiri akan memakan konsumsi energi. Meskipun, jumlah energi yang digunakan masih jauh dari jumlah keseluruhan energi listrik yang digunakan di dunia saat ini. Namun kenyataannya adalah pertambangan Bitcoin memang membutuhkan energi listrik.

Pada perangkat pertambangan tentu perlu diproduksi. Baik saat masih berupa bahan baku fisiknya, lalu mengubahnya menjadi perangkat pertambangan Asic. Dan dari proses tersebut juga akan membutuhkan energi. Sedangkan untuk pengiriman produk jadi perangkat Asic kepada konsumen, juga memakan energi dalam pengirimannya. Lalu, berlanjut lagi setelah perangkat tersebut digunakan untuk pertambangan Bitcoin, komputasi perangkatnya juga akan memakan energi.

Dari tingkat konsumsi energy yang telah berlangsung di pertambangan Bitcoin saat ini, banyak harapan yang akan bisa menurunkan tingkat konsumsi energi. Terutama pada proses pertambangan Bitcoin. Mari kita lihat lebih jauh tingkat konsumsi energi dalam Bitcoin.